Oleh: Teuku Saifuddin Alba
Jejakkini.com-Pernyataan Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayah Wa, sempat menghadirkan kesejukan di hati masyarakat korban bencana. Dalam berbagai pernyataan yang beredar di media sosial, Ayah Wa menegaskan bahwa bantuan bagi masyarakat terdampak bencana harus disalurkan secara adil, tanpa tebang pilih, baik berupa bantuan jadup (jaminan hidup), dana pembersihan rumah, bantuan perabot rumah tangga, maupun bantuan rumah rusak ringan dan sedang.
Ucapan itu tentu menjadi cahaya harapan bagi rakyat kecil yang selama ini hidup dalam kesusahan akibat bencana. Di tengah rumah yang masih berlumpur, dinding yang retak, dan perabot yang hanyut dibawa banjir, masyarakat hanya berharap negara hadir melalui tangan pemimpinnya.
Namun sayangnya, kenyataan di lapangan justru menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Ada gampong yang hingga hari ini belum menerima bantuan apa pun. Sementara di sisi lain, ada pula gampong yang disebut-sebut telah menerima hingga tiga jenis bantuan sekaligus. Ketimpangan inilah yang mulai melahirkan keresahan dan rasa ketidakadilan di tengah rakyat.
Masyarakat tentu tidak ingin menuduh siapa pun. Namun suara-suara kecil dari pelosok desa harus didengar. Sebab bantuan bencana bukan hadiah pribadi, melainkan hak masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Jangan sampai air mata korban bencana semakin deras karena merasa dianaktirikan oleh sistem yang tidak berpihak kepada mereka.
Rakyat Aceh Utara percaya bahwa Ayah Wa memiliki niat baik untuk membantu seluruh korban bencana tanpa kecuali. Sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat tentu tidak ingin namanya tercoreng akibat dugaan ketidakmerataan penyaluran bantuan di lapangan. Karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi dan pengawasan yang ketat terhadap proses pendataan dan distribusi bantuan.
Jangan biarkan ada aparat atau oknum tertentu yang bermain di atas penderitaan rakyat. Jangan sampai bantuan yang seharusnya menjadi penyambung harapan malah berubah menjadi sumber kecemburuan sosial di tengah masyarakat.
Bencana tidak memilih siapa korbannya. Maka bantuan juga jangan memilih kepada siapa harus diberikan. Semua korban berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Tidak boleh ada yang diprioritaskan karena kedekatan, hubungan tertentu, ataupun kepentingan lain.
Hari ini rakyat Aceh Utara tidak membutuhkan janji yang indah semata. Mereka membutuhkan bukti nyata bahwa pemerintah benar-benar hadir di tengah penderitaan mereka. Sebab bagi masyarakat kecil, satu bantuan kecil sekalipun sangat berarti untuk melanjutkan hidup.
Semoga suara rakyat ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Karena keadilan sosial bukan hanya sekadar slogan, tetapi amanah yang wajib dijaga oleh setiap pemimpin.







