Opini oleh Teuku Muji Lagang

Jejakkini.com-Maraknya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, tawuran, hingga tindakan kriminal yang melibatkan anak di bawah umur seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, masyarakat sering kali langsung menyalahkan anak tersebut. Padahal, sebelum menilai anak, kita perlu melihat lebih dahulu lingkungan keluarga tempat ia dibesarkan.

Keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap anak, sedangkan orang tua adalah guru pertama yang mengajarkan nilai kehidupan. Sejak seorang anak lahir, ia belajar melalui apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan di dalam rumah. Oleh karena itu, baik atau buruknya akhlak seorang anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh, perhatian, kasih sayang, dan keteladanan orang tuanya.

Salah satu faktor yang sangat memengaruhi perkembangan mental dan akhlak anak adalah kondisi broken home. Perceraian, pertengkaran yang tidak pernah selesai, atau hilangnya keharmonisan dalam keluarga dapat meninggalkan luka batin yang mendalam. Anak kehilangan rasa aman dan kasih sayang. Dalam kondisi seperti ini, banyak anak mencari pelarian di luar rumah. Mereka mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang salah, bahkan terjerumus ke dalam perilaku yang merusak masa depan.

Persoalan lain yang semakin mengkhawatirkan adalah ketika orang tua sendiri terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dan judi online. Kebiasaan tersebut bukan hanya menghancurkan kehidupan orang tua, tetapi juga merusak masa depan anak. Anak membutuhkan contoh yang baik. Mereka akan lebih mudah meniru tindakan daripada sekadar mendengar nasihat. Ketika setiap hari yang mereka lihat adalah pertengkaran, kecanduan, dan hilangnya tanggung jawab, maka nilai-nilai akhlak yang baik akan sulit tumbuh.

Tidak sedikit pula orang tua yang terpaksa merantau atau bekerja hingga jarang pulang ke rumah. Mencari nafkah memang merupakan kewajiban, tetapi mendidik anak juga merupakan amanah yang tidak boleh diabaikan. Kehadiran orang tua memiliki nilai yang tidak dapat digantikan oleh uang. Anak membutuhkan perhatian, pelukan, nasihat, dan komunikasi yang hangat agar mereka merasa dicintai dan dihargai.

Masalah lain yang sering luput dari perhatian adalah ketika anak yang masih di bawah umur dipaksa bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Membantu orang tua tentu merupakan perbuatan baik apabila tidak mengganggu pendidikan dan tumbuh kembang anak. Namun, jika anak dijadikan tulang punggung keluarga, bahkan orang tua bergantung pada penghasilan anak, maka hubungan dalam keluarga menjadi tidak sehat. Anak dapat kehilangan rasa hormat kepada orang tua karena merasa memiliki peran yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pada akhirnya, nasihat orang tua pun sering tidak lagi diindahkan.
Pendidikan akhlak tidak cukup hanya diserahkan kepada sekolah atau guru agama.

Pendidikan yang paling efektif dimulai dari rumah. Orang tua harus menjadi teladan dalam kejujuran, disiplin, sopan santun, tanggung jawab, kepedulian, dan ketaatan kepada Allah SWT. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya berkata jujur, rajin beribadah, menghormati sesama, dan hidup sederhana akan lebih mudah meneladani nilai-nilai tersebut.

Selain keluarga, masyarakat, tokoh agama, sekolah, dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.

Pencegahan narkoba, pemberantasan judi online, perlindungan terhadap anak, serta penguatan pendidikan karakter harus menjadi gerakan bersama agar generasi muda tidak kehilangan arah.

Sudah saatnya kita berhenti hanya menyalahkan anak atas setiap kenakalan yang terjadi. Mari kita mulai dengan memperbaiki keluarga. Anak adalah cermin dari rumah tempat ia dibesarkan. Jika rumah dipenuhi kasih sayang, keteladanan, dan pendidikan yang baik, maka insya Allah akan lahir generasi yang berakhlak mulia. Sebaliknya, jika rumah dipenuhi konflik, kekerasan, kelalaian, dan contoh yang buruk, maka anak akan tumbuh dengan berbagai persoalan yang pada akhirnya menjadi beban bagi masyarakat.

Masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan generasi mudanya, tetapi juga oleh akhlak mereka. Karena itu, marilah kita membangun keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan menjadikan pendidikan akhlak sebagai prioritas utama. Sebab, anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Apa yang kita tanamkan kepada mereka sekarang akan menjadi warisan yang menentukan masa depan bangsa.

“Anak adalah cermin orang tuanya. Jika ingin melihat masa depan bangsa, lihatlah bagaimana keluarga hari ini mendidik anak-anaknya.”

Editor/admin : Teuku Jejakkini