Opini Oleh : Teuku Saifuddin Alba

Mediajejakkini.com-Dua hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, masyarakat Aceh akan menghadapi sebuah momentum yang sarat makna. Pada 15 Agustus 2026, ulama bersama rakyat Aceh akan menggelar doa bersama sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Allah SWT agar Aceh senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, keberkahan dan dijauhkan dari berbagai bencana serta musibah.

Momentum ini layak dipandang lebih dari sekadar kegiatan keagamaan. Ia merupakan sebuah pesan moral bahwa di tengah berbagai dinamika kehidupan, masyarakat Aceh masih memiliki satu cita-cita besar yang sama,hidup dalam suasana damai, aman dan tenteram.

Doa yang dipanjatkan bersama diharapkan menjadi simbol persatuan. Ulama dan masyarakat menyatukan hati, menundukkan kepala dan memohon agar Aceh ke depan menjadi daerah yang semakin baik, masyarakatnya semakin sejahtera, ekonominya semakin kuat dan generasi mudanya memiliki masa depan yang cerah.

Perdamaian Jangan Hanya Diucapkan, Tetapi Harus Dijaga.Aceh memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia. Berbagai peristiwa telah membentuk karakter masyarakat Aceh menjadi masyarakat yang kuat, religius dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi.

Karena itu, ketika masyarakat Aceh berbicara tentang perdamaian, sesungguhnya yang dibicarakan bukan hanya sebuah kata.

Perdamaian adalah kehidupan.

Perdamaian adalah kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dengan tenang. Perdamaian adalah kesempatan bagi petani untuk menggarap sawah, nelayan untuk melaut, pedagang untuk membuka usaha dan masyarakat untuk menjalankan ibadah serta aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut.

Maka perdamaian harus dijaga bersama.

Jangan sampai perbedaan politik membuat masyarakat terpecah. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Jangan pula media sosial menjadi tempat menyebarkan provokasi, fitnah dan informasi yang dapat mengganggu ketenteraman masyarakat.

Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.

Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan rasa saling menghormati.Doa Sebagai bentuk  Ikhtiar,dalam tradisi masyarakat Aceh, doa bukan sesuatu yang asing. Doa menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.Ketika menghadapi persoalan, masyarakat berdoa.

Ketika memperoleh keberhasilan, masyarakat bersyukur.Ketika menghadapi musibah, masyarakat kembali kepada Allah SWT.

Karena itu, doa bersama pada 15 Agustus 2026 dapat menjadi sebuah ikhtiar batin untuk memohon agar Aceh selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Semoga Allah menjauhkan Aceh dari bencana alam, musibah, konflik, perpecahan dan berbagai persoalan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.Namun doa juga harus berjalan bersama ikhtiar nyata.

Ketika kita berdoa agar lingkungan dijaga dari bencana, maka masyarakat juga harus menjaga lingkungan.Ketika kita berdoa agar masyarakat sejahtera, maka pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus bekerja menciptakan peluang ekonomi.Ketika kita berdoa agar Aceh damai, maka kita semua harus menjadi bagian dari penjaga perdamaian.

Momentum Menjelang HUT RI ke-81

Menariknya, doa bersama tersebut dilaksanakan hanya dua hari menjelang HUT Republik Indonesia ke-81.Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk kembali merenungkan arti kemerdekaan.Kemerdekaan bukan hanya tentang upacara, pengibaran bendera Merah Putih atau berbagai perlombaan rakyat.

Kemerdekaan juga berarti bagaimana masyarakat dapat hidup aman, memperoleh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, menjalankan ibadah dengan tenang dan memiliki masa depan yang lebih baik.Kemerdekaan akan menjadi semakin bermakna ketika rakyat dapat merasakan manfaat pembangunan secara nyata.

Karena itu, doa bersama menjelang HUT RI ke-81 dapat menjadi momentum untuk menguatkan rasa syukur sekaligus menyampaikan harapan agar pembangunan Aceh terus bergerak ke arah yang lebih baik.