Aceh Utara,jejakkini.com – Delapan bulan lebih telah berlalu sejak banjir bandang dahsyat menerjang Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara pada November 2025. Namun hingga kini, penderitaan para petani belum juga berakhir.
Sekitar 800 hektare lahan persawahan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat masih belum dapat digarap karena tertimbun tanah, pasir, batu, dan material yang terbawa arus banjir. Kondisi tersebut membuat ribuan petani kehilangan mata pencaharian dan harapan untuk kembali bercocok tanam.
Hamparan sawah yang dahulu menghijau kini berubah menjadi lautan tanah dan bebatuan. Saluran irigasi banyak yang rusak, sementara lahan pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat tidak lagi bisa ditanami padi.
Bagi para petani, sawah bukan sekadar sebidang tanah. Sawah adalah sumber penghidupan, tempat mereka mencari nafkah, menyekolahkan anak-anak, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, semua itu seakan terhenti akibat bencana yang menyisakan luka mendalam.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Aceh, hingga Pemerintah Pusat segera mengambil langkah nyata untuk melakukan normalisasi lahan pertanian, membersihkan material banjir, memperbaiki jaringan irigasi, serta memberikan bantuan kepada para petani agar mereka dapat kembali mengolah sawahnya.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan produksi pangan di Kecamatan Sawang akan terus menurun dan perekonomian masyarakat semakin terpuruk. Padahal, Sawang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi di Aceh Utara.
Kini harapan masyarakat hanya satu: jangan biarkan para petani berjuang sendiri. Mereka tidak meminta belas kasihan, tetapi membutuhkan perhatian dan tindakan nyata agar dapat kembali menanam, memanen, dan menghidupkan kembali tanah yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka.
Bencana memang telah berlalu, tetapi penderitaan para petani Sawang masih berlangsung hingga hari ini. Sudah saatnya semua pihak bergandengan tangan agar 800 hektare sawah yang tertimbun itu dapat kembali menjadi hamparan hijau yang menghidupi masyarakat.
Penulis : Ampon Blang







