Aceh Utara,mediajejakkini.com— Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berjalan, masih ada keluarga yang harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan. Salah satunya dialami Muslem (56), warga Gampong Punteut, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

Muslem bersama seorang putranya kini tinggal di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 6×4 meter. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan itu justru berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dinding rumah terbuat dari tepas yang telah lapuk, sementara lantainya masih berupa tanah. Kondisi bangunan yang semakin tua membuat rumah tersebut terlihat tidak lagi layak untuk ditempati dalam jangka panjang.

Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya dipandang sebagai tempat untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Namun bagi Muslem dan putranya, rumah kecil tersebut adalah tempat mereka menggantungkan harapan dan bertahan menghadapi kehidupan.

Kondisi semakin berat karena Muslem yang kini berusia 56 tahun disebut sering mengalami sakit-sakitan. Dalam keadaan tubuh yang tidak selalu kuat, ia harus menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan yang ada.

Tidak banyak yang dapat dilakukan ketika kebutuhan hidup terus datang, sementara kondisi tempat tinggal dan kemampuan ekonomi sangat terbatas.

Rumah yang ditempati Muslem bukan sekadar bangunan sederhana. Setiap bagian rumah itu seolah menggambarkan beratnya perjuangan sebuah keluarga untuk bertahan hidup.

Dinding tepas yang mulai lapuk menjadi pelindung mereka. Lantai tanah menjadi tempat mereka menjalani aktivitas sehari-hari. Di bawah kondisi seperti itu, Muslem dan putranya tetap berusaha menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.

Hujan dan panas menjadi bagian dari keseharian.

Ketika rumah tidak lagi memiliki kondisi yang memadai, rasa aman dan nyaman tentu menjadi sesuatu yang sulit didapatkan. Apalagi bagi seseorang yang sering sakit, lingkungan tempat tinggal yang tidak layak tentu menjadi persoalan yang sangat memprihatinkan.

Kisah Muslem seakan mengingatkan bahwa di balik pembangunan dan berbagai aktivitas masyarakat, masih ada warga yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Bukan kemewahan yang mereka harapkan. Bukan pula rumah besar dengan fasilitas lengkap.

Yang dibutuhkan hanyalah sebuah rumah yang layak, aman, dan manusiawi untuk ditempati.

Kondisi seperti ini tentu menjadi perhatian bersama. Pemerintah, aparatur gampong, para dermawan, organisasi sosial, serta masyarakat yang memiliki kemampuan diharapkan dapat melihat langsung kondisi kehidupan Muslem dan keluarganya.

Bantuan sekecil apa pun tentu memiliki arti besar bagi keluarga yang sedang berada dalam keterbatasan.

Sebuah seng untuk mengganti bagian rumah yang rusak, material bangunan, kebutuhan sehari-hari, bantuan kesehatan, hingga pembangunan rumah sederhana yang layak huni dapat menjadi harapan baru bagi Muslem dan putranya.

Kepedulian terhadap warga kurang mampu bukan hanya tentang memberikan bantuan materi. Lebih dari itu, kepedulian adalah tentang menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kehidupan.

Muslem mungkin hanya satu dari sekian banyak warga yang membutuhkan perhatian. Namun jika kepedulian dimulai dari satu keluarga, kemudian menyebar kepada keluarga lainnya, tentu akan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat.

Di usia 56 tahun, ketika sebagian orang mungkin berharap dapat menikmati kehidupan dengan lebih tenang, Muslem justru masih harus berjuang menghadapi keterbatasan tempat tinggal dan kondisi kesehatan.

Rumah berukuran 6×4 meter itu menjadi saksi bagaimana sebuah keluarga menjalani hari demi hari.

Di balik dinding tepas yang lapuk, ada seorang ayah yang sedang berjuang mempertahankan hidup bersama putranya.

Di balik lantai tanah, ada harapan agar suatu hari mereka dapat memiliki tempat tinggal yang lebih baik.

Dibalik kesederhanaan itu, ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:

Masihkah kita tega membiarkan keluarga seperti Muslem menjalani kehidupan dalam rumah yang sudah tidak layak dihuni?

Semoga kisah ini dapat mengetuk hati siapa pun yang membacanya. Semoga ada tangan-tangan yang tergerak untuk membantu, bukan karena kasihan semata, tetapi karena setiap manusia berhak mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak.

Muslem dan putranya mungkin tidak mampu membangun rumah itu sendiri. Tetapi dengan kepedulian banyak orang, rumah sederhana yang layak huni bukanlah sesuatu yang mustahil.

Kini, harapan itu mungkin masih kecil.
Namun dari kepedulian yang tulus, harapan kecil tersebut bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Mari melihat, mari peduli, dan mari berbagi. Karena terkadang, bagi mereka yang sedang kesusahan, bantuan yang kita anggap kecil justru bisa menjadi harapan terbesar dalam hidupnya.

Pewarta : Munawar (Kabiro Jejakkini Aceh Utara)