Aceh Utara,mediajejakkini.com – Dampak banjir bandang yang melanda Aceh Utara pada November 2025 hingga kini masih menyisakan penderitaan mendalam bagi masyarakat, khususnya para petani di Kecamatan Muara Batu. Bencana yang datang membawa material tanah dan lumpur dalam jumlah besar itu tidak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga memukul perekonomian warga yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil sawah. Kondisi tersebut kini semakin terasa berat karena harga kebutuhan pokok di pasar terus mengalami ketidakstabilan, sementara sumber penghasilan masyarakat semakin berkurang. Di tengah beban hidup yang terus meningkat, para petani harus menghadapi kenyataan pahit karena sebagian besar sawah mereka masih belum dapat ditanami akibat tertimbun tanah bawaan banjir yang menutupi permukaan lahan hingga meratakan petak-petak persawahan.
Saat wartawan media ini menyusuri kawasan persawahan di Gampong Mane Tunong dan Gampong Kuala Dua, Kecamatan Muara Batu, pemandangan memilukan terlihat jelas di hadapan mata. Hamparan sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat kini berubah menjadi lahan yang dipenuhi endapan tanah dan lumpur. Tidak terlihat aktivitas para petani yang biasanya sibuk mengolah lahan menjelang musim tanam. Sebaliknya, yang tampak hanyalah bentangan tanah yang belum tersentuh alat pertanian, seolah menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan masyarakat bangkit dari bencana. Kondisi tersebut membuat harapan untuk kembali bercocok tanam semakin sulit diwujudkan tanpa adanya bantuan nyata dari pemerintah.
Salah seorang petani yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan kesedihan yang selama ini mereka rasakan. Menurutnya, sawah merupakan satu-satunya sumber penghidupan bagi keluarganya. Namun sejak banjir bandang melanda, mereka kehilangan kesempatan untuk menanam padi sehingga penghasilan pun terhenti. “Kami sangat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan perhatian serius kepada para petani sawah. Inilah pekerjaan utama kami untuk mencari nafkah bagi keluarga. Jika sawah tidak bisa ditanami, kami tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Para petani berharap pemerintah tidak hanya melihat kerusakan yang terjadi, tetapi juga segera menghadirkan solusi nyata melalui program normalisasi lahan, pembersihan endapan tanah, bantuan alat berat, serta pendampingan bagi masyarakat agar sawah mereka dapat kembali produktif. Sebab, setiap musim tanam yang terlewati tanpa aktivitas berarti semakin memperpanjang penderitaan ekonomi masyarakat pedesaan. Mereka meyakini bahwa apabila lahan pertanian dapat dipulihkan, roda perekonomian desa akan kembali bergerak dan kehidupan masyarakat sedikit demi sedikit akan bangkit dari keterpurukan.
Kini, harapan besar para petani tertuju kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Aceh, serta instansi terkait agar suara mereka tidak berhenti sebagai keluhan semata. Bagi masyarakat Muara Batu, memulihkan sawah bukan hanya tentang mengembalikan lahan pertanian, melainkan juga mengembalikan harapan, martabat, dan masa depan keluarga-keluarga yang selama ini hidup dari hasil bumi. Mereka berharap jeritan yang telah lama dipendam dapat didengar, sehingga tidak ada lagi petani yang terpaksa meninggalkan sawahnya hanya karena menunggu uluran perhatian yang tak kunjung datang.
Pewarta : Teuku Saifuddin Alba







