Bogor ( jejakkini.com ), Siapa sangka, perjalanan panjang seorang pria bernama Bapak Nurdin (32) ini dimulai dari langkah kecil dan penghasilan yang sangat sederhana (14/5/2026).

 

Sudah bekerja sejak tahun 2012, ia telah menempuh karier dari masa dirinya masih berstatus bujangan, hingga kini tumbuh menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya.

 

Semuanya bermula dari keinginan memiliki keahlian. Setelah mengikuti kursus menjahit, Bapak Nurdin memberanikan diri melamar kerja ke sebuah pabrik garmen, tempat pembuatan pakaian.

 

Kabar baik datang saat itu, lamaran pertamanya langsung diterima.

 

Namun, siapa yang menyangka, di awal masa kerjanya ia harus bertahan dengan gaji yang sangat minim. Saat itu, upahnya dibayarkan setiap dua minggu sekali dengan nominal sekitar Rp1.200.

 

Angka yang terdengar sangat kecil jika dibandingkan zaman sekarang, namun bagi Nurdin,rezeki itu tetap disyukuri dan menjadi tumpuan hidup keluarganya sehari-hari.

 

Ia bertahun-tahun bekerja dengan ketekunan, meski penghasilan yang didapat jauh dari kata cukup.

 

Ujian berat pun datang menghampiri. Suatu ketika, pabrik garmen tempatnya bekerja mengalami guncangan usaha hebat akibat pesanan yang menurun drastis.

 

Konsekuensinya, hari libur jauh lebih banyak dibandingkan hari kerja.

 

Ironisnya, kondisi sulit ini terjadi tepat saat mendekati hari raya Idul Fitri.

 

Hati Bapak Nurdin pun Bimbang dan penuh kekhawatiran. Siapa yang tidak paham kondisi menjelang Lebaran? Segala kebutuhan harganya naik, dan sebagai seorang ayah, ia hanya punya satu harap sederhana: setidaknya bisa membelikan pakaian baru bagi istri dan anak-anaknya, meski tidak harus yang mahal.

 

Namun, dengan kondisi ekonomi perusahaan yang sedang goyah dan pekerjaan yang sepi, harapan sederhana itu terasa sulit terwujud.

 

Di tengah kegalauan itu, datanglah secercah harapan dari seorang teman. Teman tersebut mengajak Bapak Nurdin untuk mencoba peruntungan bekerja di sebuah pabrik pembuatan jok motor.

 

“Pak kerja di pabrik pembuatan jok motor yu kita

Coba beberapa Minggu sipatau upahnya lumayan”,ujar temennya

 

Rasa penasaran bercampur ragu memenuhi hatinya, namun ia pun memberanikan diri datang ke tempat baru itu dan mencoba bekerja selama beberapa hari.

 

Kebimbangan masih menghantuinya. Pasalnya, waktu itu sudah makin dekat dengan bulan suci Ramadan.

 

“Apakah di tempat baru ini saya bisa mendapatkan uang atau tidak,”Tutur Bapak Nurdin

 

Akhirnya, Bapak Nurdin memutuskan untuk bersabar dan bertahan selama satu minggu, menunggu tiba saatnya pembayaran upah untuk membuktikan seberapa besar rezeki yang akan ia terima.

 

Tak disangka dan tak terduga, saat hari gajian tiba, wajah Bapak Nurdin pun berubah sumringah penuh syukur.

 

Ternyata, jumlah upah yang ia terima di pabrik jok motor itu nilainya sedikit lebih besar dibandingkan penghasilannya saat masih bekerja di pabrik garmen sebelumnya.

 

” Alhamdulillah ya Allah ternyata upah yang di berikan dari hasil kerja satu Minggu di Pabrik jok motor ternyata lebih lumyan di bandingkan kerja di pabrik sebelumnya,”ujar dia

 

 

Meski kini telah menemukan tempat kerja yang lebih baik dan penghasilan yang cukup, Bapak Nurdin menyimpan cita-cita besar di dalam hatinya.

 

Ia berharap suatu saat nanti bisa berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik dan memilih jalan menjadi seorang pedagang.

 

Salah satu keinginan terbesarnya adalah membuka usaha berjualan bakso.

 

Bagi Nurdin, menjadi pedagang memiliki makna yang lebih dalam.

 

“Kalau berjualan, saya bisa mengatur waktu luang saya sendiri,”ujarnya

 

ungkapnya dengan penuh harap. Baginya, kebebasan mengatur waktu itu sangat berharga, karena ia ingin segala aktivitas dan pencahariannya kelak bisa berjalan beriringan dengan kewajiban beribadah kepada Allah SWT.

 

Ia meyakini bahwa sekeras apa pun usaha yang dilakukan, semuanya harus dibarengi dengan ibadah dan rasa syukur yang tak terputus kepada Sang Pencipta.

 

“Ya uang dari hasil kerja berapapun intinya di syukuri dan jangan lupa beribadah supaya hidup kita berkah,”tuturnya

 

Sebab baginya, keberhasilan sejati bukan hanya soal banyaknya uang, tapi seberapa baik kita mendekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

 

Kabar gembira itu menjadi jawaban atas segala kekhawatirannya, sekaligus membuktikan bahwa di mana ada kesabaran dan usaha, di situ pula jalan rezeki yang lebih baik akan selalu dibukakan oleh Tuhan.

 

(Jandan )